HUBUNGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEJADIAN IKTERUS NEONATORUM DI RSUD PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
DOI:
https://doi.org/10.64094/zqw40443Keywords:
bayi berat lahir rendah, ikterus neonatorum, hiperbilirubinemia, neonatus, NICUAbstract
Bayi berat lahir rendah (BBLR) memiliki imaturitas fungsi hepar yang dapat meningkatkan risiko hiperbilirubinemia dan ikterus neonatorum. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan BBLR dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian analitik observasional berbasis rekam medis dengan desain potong lintang dilakukan pada neonatus yang dirawat di NICU RSUD Provinsi NTB periode Januari–Desember 2021 (N=221). Variabel paparan adalah BBLR (<2500 g) dan variabel outcome adalah ikterus neonatorum (berdasarkan diagnosis/rekam medis). Analisis menggunakan uji Chi-square dan estimasi odds ratio pada α=0,05. Proporsi BBLR sebesar 56,6% (125/221). Ikterus neonatorum ditemukan pada 63,3% (140/221). Terdapat hubungan bermakna antara BBLR dan ikterus neonatorum (p < 0,001), dengan OR=3,59 yang menunjukkan neonatus BBLR memiliki peluang lebih tinggi mengalami ikterus dibanding berat lahir ≥2500 g. BBLR berhubungan signifikan dengan kejadian ikterus neonatorum di RSUD Provinsi NTB.
Downloads
References
Anggrenisa, R. (2018). Faktor-faktor yang berhubungan dengan berat badan bayi lahir di Klinik Nurhalma dan Klinik Pratama Jannah Tembung Tahun 2018. Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Medan.
Auliasari, N. A., Etika, R., Krisnana, I., & Lestari, P. (2019). Faktor risiko kejadian ikterus neonatorum. Pediomaternal Nursing Journal, 5(2), 183–189. https://doi.org/10.20473/pmnj.v5i2.13457
Faiqah, S. (2014). Hubungan hiperbilirubinemia dengan kejadian ensefalopati bilirubin pada neonatus. [Karya ilmiah].
Hardiani, A. (2018). Hubungan antara berat badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian hiperbilirubinemia di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Puri Bunda Malang Tahun 2016. Universitas Brawijaya.
Haryuningsih, W. (2018). Hubungan antara kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan kejadian kematian bayi di Kabupaten Bantul Tahun 2016. Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta.
Hasanah, N. F. (2021). Determinan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) di Indonesia (Analisis data SDKI 2017). Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Herlina. (2017). Gambaran karakteristik ibu dan bayi berat lahir rendah (BBLR) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mandor. Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Jaya, A. A., Saharuddin, S., & Fauziah, H. (2021). Hubungan berat badan lahir rendah (BBLR) dengan hiperbilirubinemia di rumah sakit wilayah Kota Makassar periode Januari–Desember 2018. UMI Medical Journal, 6(2), 137–143.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Profil kesehatan Indonesia tahun 2019. Kementerian Kesehatan RI.
Lestari, S. (2018). Hubungan berat badan lahir bayi dan usia kehamilan dengan kejadian ikterus neonatorum. Jurnal Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, 12–40.
Manila, H. D., Fransisca, D., Jesika, F., Resta, H. A., Anggraini, M. L., Amir, A. Y., et al. (2022). Analisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ikterus fisiologis. Jurnal Kesehatan, 13(3), 449–454.
Susanti, D. I. (2018). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian bayi lahir rendah di RSUD Wonosari Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2016. Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan.
Utami, T. R. (2020). Rasio prevalensi prematuritas dengan kejadian ikterus neonatorum di wilayah Kabupaten Kulon Progo Tahun 2018–2020. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Widadi, S. Y., Puspita, T., Alfiansyah, R., Rilla, E. V., & Wahyudin, S. N. (2023). Hubungan berat badan lahir rendah dengan kejadian hiperbilirubin di ruang perinatologi RSUD dr. Slamet Garut. Jurnal Ilmiah Indonesia, 8(2), 1–23.
Yusuf, A. (2021). Gambaran kejadian ikterus neonatorum di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Indonesian Journal of Health Research Innovation

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang mempublikasikan di jurnal kami menyetujui ketentuan berikut:
Penulis memegang hak cipta dan memberikan Jurnal Kami hak publikasi pertama dengan karya tersebut secara bersamaan dilisensikan di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International yang memungkinkan orang lain untuk membuat perubahan, mengadaptasi, dan mengembangkan karya tersebut dengan pengakuan atas karya penulis dan publikasi awal di Jurnal. Penulis diizinkan untuk menyalin dan mendistribusikan kembali versi karya yang diterbitkan jurnal (misalnya, mempostingnya ke repositori institusi atau menerbitkannya dalam buku), dengan pengakuan publikasi di jurnal kami.



