FENOMENA SPEECH DELAY PADA BALITA DI KELUARGA PEKERJA INDUSTRI
DOI:
https://doi.org/10.64094/gknmjh41Keywords:
speech delay, screen time, pola asuh, stres kerja, kawasan industri, model konseptualAbstract
Keterlambatan bicara (speech delay) pada balita usia 0–5 tahun merupakan isu tumbuh kembang yang meningkat di Indonesia dan cenderung menonjol pada keluarga di kawasan industri. Artikel ini bertujuan memetakan masalah dan mengembangkan model konseptual yang mengaitkan screen time, pola asuh/interaksi verbal, dan stres kerja orang tua dengan fenomena speech delay di Kabupaten Bekasi. Kajian konseptual-deskriptif berbasis narrative literature review dan observasi situasional awal konteks keluarga pekerja industri di Kabupaten Bekasi. Sintesis dilakukan terhadap bukti ilmiah dan sumber klinis/kesehatan masyarakat yang relevan untuk mengidentifikasi mekanisme risiko serta merumuskan peta masalah dan model konseptual. Literatur menunjukkan screen time berlebih berasosiasi dengan keterlambatan bahasa melalui berkurangnya interaksi dua arah yang dibutuhkan untuk akuisisi bahasa. Stres kerja orang tua dan keterbatasan waktu interaksi pada rumah tangga pekerja industri memperbesar peluang penggunaan gawai sebagai strategi pengasuhan praktis, sekaligus menurunkan kualitas pengasuhan responsif dan stimulasi verbal. Model konseptual yang diusulkan menempatkan “konteks industrial” sebagai determinan struktural yang memengaruhi stres kerja, kualitas interaksi/pola asuh, dan screen time balita yang kemudian meningkatkan risiko speech delay fungsional. Fenomena speech delay di kawasan industri dapat dipahami sebagai hasil interaksi faktor perilaku anak dan faktor psikososial keluarga yang dibentuk oleh lingkungan kerja industri. Model konseptual ini dapat digunakan sebagai kerangka uji empiris dan rancangan intervensi pada tahap penelitian berikutnya.
Downloads
References
American Academy of Pediatrics. (2016). Media and young minds. Pediatrics, 138(5), e20162591. https://doi.org/10.1542/peds.2016-2591
Amalia, H. F., & Setyowati. (2019). Durasi paparan layar dan perkembangan bahasa anak usia 18–36 bulan. Jurnal Kesehatan Anak, 7(2), 85–92.
Astuti, D. (2023). Faktor risiko keterlambatan bicara pada anak usia dini. Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak, 12(1), 45–52.
Byeon, H., & Hong, S. (2015). Relationship between television viewing and language delay in toddlers. Journal of Child Language, 42(2), 403–413.
Grant, M. J., & Booth, A. (2009). A typology of reviews: An analysis of 14 review types and associated methodologies. Health Information & Libraries Journal, 26(2), 91–108. https://doi.org/10.1111/j.1471-1842.2009.00848.x
Green, B. N., Johnson, C. D., & Adams, A. (2006). Writing narrative literature reviews for peer-reviewed journals: Secrets of the trade. Journal of Chiropractic Medicine, 5(3), 101–117. https://doi.org/10.1016/S0899-3467(07)60142-6
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2018). Rekomendasi penggunaan media digital pada anak usia dini. IDAI.
Ivandio. (2022). Laporan data perkembangan anak di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Purnama, R., Sari, N., & Wulandari, D. (2024). Penggunaan gawai dan perkembangan bahasa balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 19(1), 33–41.
RSIA Harapan Mulia. (2023). Speech delay: Gejala, penyebab, pencegahan, dan pengobatan. Diakses dari https://rsiaharapanmulia.com
Safriana, L. (2017). Pengaruh stres orang tua terhadap keterlambatan bicara (speech delay) pada anak. Jurnal Permata Indonesia, 8(2), 67–75.
Republika. (2022). Kasus speech delay anak meningkat selama pandemi COVID-19. Republika Online. https://ameera.republika.co.id
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Indonesian Journal of Health Research Innovation

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang mempublikasikan di jurnal kami menyetujui ketentuan berikut:
Penulis memegang hak cipta dan memberikan Jurnal Kami hak publikasi pertama dengan karya tersebut secara bersamaan dilisensikan di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International yang memungkinkan orang lain untuk membuat perubahan, mengadaptasi, dan mengembangkan karya tersebut dengan pengakuan atas karya penulis dan publikasi awal di Jurnal. Penulis diizinkan untuk menyalin dan mendistribusikan kembali versi karya yang diterbitkan jurnal (misalnya, mempostingnya ke repositori institusi atau menerbitkannya dalam buku), dengan pengakuan publikasi di jurnal kami.



